Blog number one in desa

Niki Salah Sawijining BLOG kang Di nduweni cah ndeso,sing bocahe wonten sekolah teng" MA.BUSTANUL ULUM"

Kamis, 04 November 2010

Senandung Kidung Kemiskinan

Oleh Faqih Al Asy'ari pada 27 Oktober 2010 

Aku bertemu teman lamaku, di kantor bursa saham itu. Jawaban atas renungan gamang langkah manusia. Ini cerita aku dan temanku, bersaing di percikan hari yang tak lagi terkendali, seperti rimba. Ya, seperti rimba binatang. Siapa yang kuat, dia yang menang. Kompetisi ini bersifat bebas lepas tak terbatas. Bahkan hukum sebagai usaha manusia mencari prinsip hidup, juga harus pupus tergerus sebuah paham liberalisasi kapital. Sekali lagi, seperti rimba. Karena tanpa uang, kita ditendang.
‘Orang-orang kita ini pemalas’. Itu jawaban pertanyaanku pada teman kini pialang saham itu, seorang manager bursa saham di kota bisnis, seorang teman yang sukses tinggal duduk-duduk mengendalikan jual beli komoditi perusahaan-perusahaan internasional yang berpusat di Wall Street USA, atas pertanyaanku ‘Mengapa kemiskinan masih menggurita di negeri ini ?’
Fikiranku lantas kembali menatap sore kemarin, ya, saat aku bersandar di warung kopi, memandang tanpa ujung penjual jamu tua di ujung jalan beraspal yang panas dan kasar. Fikiranku lantas menatap waktu kecilku, saat nenek, berangkat ke pasar Gadang Malang naik bus dari Blitar setiap selepas maghrib, lalu telah sampai di Blitar lagi menata dagangan sayurannya setiap subuh di pasar Templek Blitar, lalu  pulang dari sore sebelum maghrib. Selepas maghrib, keranjang plastiknya telah setia menunggu dijinjing ke pasar Gadang lagi, subuh sampai Blitar lagi, dan seterusnya.
Fikiranku lantas tatap juga ribuan dan jutaan pedagang yang terlepas di gelanggang perang harga, jutaan lapak-lapak puluhan tahun terbangun dan dalam hitungan detik ludes oleh sebuah penggusuran, berdalih penertiban, modernisasi, relokasi, renovasi, eksekusi kepemilikan tanah atau apa saja yang mengusir mereka. Fikiranku terus menatap, bahkan matanya lelah kini jelas terlihat, letih dalam aura kepasrahan dan keputusasaan.
Tiba-tiba aku tertunduk, malu atas apa yang aku nikmati, atas apa-apa yang aku banggakan, aku agungkan, apa yang aku sebut presiden, gubernur, manager, tim sukses, ketua atau koordinator ini dan itu, dosen, bahkan mahasiswa. Fikiranku kini hanya menatap tajam matanya, tanpa kata teriakkan harapan, tanpa nada nyanyikan kidung kehidupan, tanpa suara teriakkan kenyataan.
Aku terhuyung, pening atas apa yang aku baca di fikiranku. Tidak! Orang Indonesia bukan pemalas! Bahkan kita ini para pekerja keras, teramat keras! Aku ingin berteriak keras di daratan yang kian sunyi ini, bahwa orang Indonesia adalah pekerja keras! Tetapi mengapa seluruh komoditi dan investasi kita, minyak mentah, kelapa sawit, timah, bijih besi, kedelai, jagung, semua, harus kita transaksikan di Wall Street USA hanya dengan duduk-duduk di depan komputer? Belum lagi korupsi merajalela, merayap di seluruh sendi birokrasi yang kian rapuh.
Temanku, seorang yang semangat. Temanku, seorang yang pahit manis bersama pernah bersama, kini menjad hebat sebagai manager yang mengatur transaksi di kantor megahya itu, sebuah mimpi panjangnya di masa lalu. Temanku, berkata sedalam apa yang ia telah pahami ‘Kita tidak dapat menentukan harga. Pasarlah yang menentukan. Kunci suskes adalah masing-masing individu bertanggungjawab atas dirinya sendiri’. Aku salut pada keteguhannya, pada prinsipnya, kerjakerasnya, dan juga konsistensi idealismenya, termasuk tentang pasar, tentang liberalisasi.
Tapi kini aku rasakan juga hempasan senandung sepi yang bernyanyi, hempaskan kenyataan global yang kian memenjara kerja keras kita sendiri. Pada saat yang sama, kini aku, atau juga kita semua tidak dapat menghindar telah masuk di sebuah sistem yang jadikan asal muasal kemiskinan ini menggurita.
Bergelanyut dalam Tanya tentang masa yang lebih sejahtera, coba aku raba, tidak bisa, tidak aku temukan optimism yang kukuh menyandingkan aku pada mimpi kemerdekaan, atau sampai kapan kita tidak mampu merdeka. Ya, kemiskinan dan kelaparan di negeriku yang bermula saat orang-orang Eropa beserta sekutu menjajah negeri ini, mengeruk seluruh komoditi, dan memusatkan perdagangan dan modal di negeri mereka. Sama seperti sekarang, iya. Sampai sekarang. Sampai kapan?
Negeri ini tetap tidak pernah mandiri, atau kita sendiri yang takut menjadi bangsa mandiri…
Ternyata kita tetap tidak punya apa-apa, menjadi paling miskin di negeri kaya raya…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar