Blog number one in desa

Niki Salah Sawijining BLOG kang Di nduweni cah ndeso,sing bocahe wonten sekolah teng" MA.BUSTANUL ULUM"

Jumat, 29 Oktober 2010

ESQ Power

Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Q.S. 7 Al A’raaf : 96)

Krisis multidimensi saat ini sangatlah memprihatinkan, dan jika dirunut ke belakang bermuara dari pola pembangunan SDM saat ini yang terlalu mengedepankan IQ (kecerdasan intelektual) dan materialisme, tetapi mengabaikan EQ (kecerdasan emosi) terlebih lagi SQ (kecerdasan spiritual).
Sebagai wakil Allah di muka bumi, tidak sepatutnya kita membiarkan hal ini terus terjadi tanpa mengambil langkah untuk menyelesaikannya. Kami percaya bahwa untuk mengatasi masalah yang kompleks ini diperlukan suatu metode pembangunan SQ yang tetap berlandaskan kepada nilai-nilai mulia Rukun Iman, Rukun Islam dan Ikhsan, sehingga akan mengoptimalkan EQ dan SQ secara terpadu (ESQ). Oleh karena itu kami mengajak Anda untuk bersama-sama menghidupkan kembali dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur spiritualisme Islam dalam setiap denyut kehidupan.

Apabila engkau memiliki sebiji kurma di tanganmu maka tanamlah, meskipun besok akan kiamat, semoga engkau mendapat pahala. (Al Hadits)

Ary Ginanjar Agustian


Ini adalah file presentasi Power Point..
Silahkan download dan dijalankan dengan power point




ESQ Power.pps (305 KB)
“Pengaruh ESQ Power dalam Pendidikan Anak”

Sesungguhnya sebagai orang tua, kita lebih harus berpengalaman tentang dalam memanage emosi dirinya, maka orang tua seharusnya mampu menata, mengelola dengan cara yang sebenarnya dengan penantaan, pembenahan dan pengelolaan emosi inilah yang di sebut dengan kecerdasan emosional, maka orang yang tidaka mampu mengontrol adalah penyakit emosional, maka kewajiban orang tua adalah melejitkan kecerdasan emosionalnya yakni aktivitas yang harus dilakukan secara terus menerus yakni antara kesadaran menuju pada tindakan.

Kedudukan orang tua dalam hal melesatkan kecerdasan jiwa merupakan actor utama yang belajar untuk mencerdaskan diri dan anak-anaknya.sesungguhnya banyak pengalaman yang bias dikisahkan tentang kebodohan emosional dan efeknya terhadap tanggung jawab dan kewajiban orangtua dalam memberikan pengasuhan, perawatan, pendidikan dan pembelajaran pada anak.

ESQ Power better life merupakan konsepsi tentang kecerdasan emosional spiritual menurut pandangan Islam dengan pelaksanaan tanggung jawab dan kewajiban sebagai orangtua dalam merawat dan mendidik dan membelajaran terhadap anak-anaknya.

Dalam proses pendidkan terama pendidikan anak yang dilakukan oleh orang tua sangat membutuhkan adanya ESQ Power

Apakah ESQ Power ?

PengertianESQ Power kemampuan adalah kemampuan seseorang dalam memproses dan mengontrol emosi secara cerdas dengan menggabungkan unsure spiritual.

Menurut muhyidin(2006:84) bahwa Kecerdasan emosi akan mengantarkan penemuan potensi yang ada pada manusia dengan keterampilan –keterampilan praktis yang didasrkan pada lima unsure, antara lain:

Kesadaran diri {mengetahui kondisi diri sendiri}
Motivasi dalam mengelola kondisi, impuls, dan sumber daya pada diri sendiri.
Pengaturan diri yang mengacu pada kecenderungan emosi yang mengantarkan dan memudahkan peraihan sasaran.
Empati yakni jesadaran terhadap perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain.
Keterampilan social {keterampilan yang menggugah tanggapan yang dikehendaki orang lain}
Jadi pengertian ESQ Power adalah sinergi antara kekuatan emosional dan kekuatan spiritual serta merupakan keharmonisan antara kecerdasan emosional dan spiritual.

Dalam pandangan umum sebenarnya semua orang mampu memiliki ESQ Power sehingga ESQ Power ini tidak bergantung pada pada citra simbolik seseorang namun dalam hal ini diperlukan paradigma kecerdasan yang akan kecerdasan yang akan mempengaruhi dn menentukan hakikat dari kecerdaan tersebut.

Bagaimana Pengaruh ESQ Power dalam proses pendidikan ?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, keterampilan social dan emosional dan emosional yang membentuk karakter lebih penting bagi keberhasilan anak disbandingkan kecerdasan kognitif yang di ukur melalui IQ. Kecerdasan emosional dapat diajarkan pada setiap tahap perkembangan anak.

Dalam proses pendididkan terutama peran orangtua yang memiliki ESQ Power dengan tujuan agar ESQ Power tersebut dapat digunakan sebagai cara dlam mendidik anak dan dapat pula digunakan untuk diajarkan pada anak-anak.

Muhyididn menambahkan (2006:232) bahwa Menampakkan ESQ Power pada proses mendidik anak adalah suatu perwujudan akan kekuatan dan kecerdasan emosional dan spiritual selama orangtua melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab terhadap anak-anak berupa pemberian perawatan, pengasuhan, pendididkan dan pembelajaran.

Banyak orangua atau pendidik yang menganggap penting dalam pembentukan karakter anak dengan cara menanamkan nilai-nilai kejujuran, kebaikan, keadilan dan sebainya. Namun yang perlu diperhatikan adalah menanamkan nilai tauhid atau aqidah pada anak, hal ini menjadi sangat urgen dalam menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan.

Inilah yang dimaksud dengan ESQ Power sebagi proses dalam mendidik anak namun juga dibarengi dengan nampaknya ESQ Power dalam proses mendidik tersebut menurut muhyididn(2006:237) bahwa diantara nampaknya ESQ Power tersebut ada tujuh kekuatan antara lain:

Tidak menampakkan kejahatan perasaan
Menampakkan cinta dan keindahan
Menampakkan kesabaran
Menampakkan keuletan
Menampakkan kejujuran dan keadilan
Menampakkan kreatifitas dan gairah
Menampakkan disiplin dan konsistensi.
Dalam pelesatan ESQ Power dalam hal ini adalah menitikberykan pada pelesatan spiritual dari ESQ Power itu sendiri sehingga harapan bagia anak-anak yang mempunyai kecerdasan spiritual dalam kehidupan. Untuk mencapai maksud yang demikian maka perlu dipahami sesungguhnya spiritualisme dalam pengertian Islam? Kecerdasan spiritual yang bagaimanakah yang dimaksud oleh Islam?.

Akhir-akhir adanya kecenderungan akan pergeseran makna spiritual. Makna spiritual dieksploitasi sedemikian rupa sehingga terjadi absurdit dan raeduksi pada tingkatan yang parah. Dalam konteks ini, coraka pemahaman spiritual ditarik dalam kerangka-kerangka ilmiah dan logis sebagai wujud paradigma positif yang ilmiah dan logis.

Spiritual dalam Islam adalah Islam itu sendiri yang mempresentasikan ajaran –ajaran yang bersifat holistic dan integral.tidak hanya menyangkut dimensi lahir tetapi juga yang sangat urgen adalah batin.yang sifatnya kebenaran mutlak yang merupakan perwujudan dari kedekatan kepada sang Pencipta yaitu keimanan. Dengan kunci benar dan ikhlas

Dengan alasan psikologi,sebagian orangtua mungkin tidak bisa mencontohkan keterampilan pemecahan masalah di rumah, walaupun sesungguhnya mereka mempunyai peranan yang sangat penting .menurut Lawrence (2003:144) bahwa Hart menerangkan enam kualitas kepemimpinan yang perlu ditunjukkan oleh orangtua mempertahankan kebahagiaan dan harga diri individu dalam keluarga:

Mempunyai harus mempunyai visi, arah dan tujuan.
Mampu mengkomunikasikan kepemimpinan dengan efektif
Adanya usaha agar keluarga mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Adanya pertimbangan kebutuhan yang lain.
Dalam ESQ power yang berparadigma tauhid,yang akan mampu memberikan solusi dalam kehidupan.membandingkan hakikat spiritual di dalam Islam dengan ranah spiritual yang dikatakan modern yakni yang berasal dari barat jelas samgat berbeda.

Dalam pendidikan Islam didasarkan pada dasar aqidah yang diharapkan setiap perilaku anak sampai dewasa akan berperilaku sesuai dengan pemahaman aqidah y“kamus perasaan” dengan jalan menyusun diaftar perasaan dengan mengumpulka ang dimiliki.

Menurut Lawrenc (2003:278) salah satu upaya yang paling sederhana dan yang paling berguna dalam mengembangkan kematangan emosi anak dengan menggunakan n artikel-artikel, foto-foto yang kemudian ditunjukkan pada anak dan anak berpendapat dengan apa yang diamatinya.

Dalam proses pengembangan emosi anak dibutuhkan pengaturan komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal, karena dengan meninjau komunikasi ini mempermudah orang tua dalam menyelesaikan permasalahan emosi anak, maka dalam proses pendidikan terhadap kekuatan pengaturan seperti ini sangat dibutuhkan dalam relasi antara orange tua dan anak. Dalam bukunya Muhyiddin menyebutkan relasi akan melahirkan setidaknya lima interaksi antara(lihat skema 2.1)



(skema 2.1)


Seluruh interaksi dimulai dari masa bayi sampai dewasa, kecuali interaksi fisik-material hanya dapat dimulai pada masa bayi yang masih dalam masa kandungan.

Muhyiddin menambahkan (2006:113) posisi ESQ power ada tiga nilai yang yang selalu menjadi tujuan orang tua yakni nilai kebenaran, nilai kebaikan dan nilai keindahan.



Sehingga dapat dijelaskan bahwa kecerdasan intelektual adalah persoalan logika. Kecerdasan emosional adalah nilai etika dan kecerdasan spriyual merupakan nilai estetika(puncak estetika adalah keindahan Ilahi).

Hal yang diberikan oleh ESQ Power dalam problem kehidupan adalah:

Kemampuan untukmengerti dan memahami perasaan sendiri
Kemampuan untuk mengerti dn memahami perasaan orang lain
Kemampuan untuk mengarah perasaan sesuai dengan kehendak nurani
Kemampuan untuk mensucikan perasaan
Kemampuan untuk menggerakkan perasaan pada perilaiku yang positif
Kemampuan untuk mengendalikan perasaan-perasaan negative
Kemampuan untuk selalu berpegang pada keadilan dn kebenaran
Kemampuan untuk selalu rela dan ikhlas dengan takdir Allah SWT
Kemampuan untuk selalu bergantung kepada kehendak Allah
Kemampuan untuk menjadikan Cinta Ilahi sebagai puncak dari segala tujuan hidup
Wilayah ESQ Power adalah wialyah orang tua terhadap anaknya, terkadang tanpa di sadari atau tidak anak lebih mengajarkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual bagi orang tua

Apa yang dibelajarkan dan dididik anak adalah apa yang menjadi pedoman bagi kehidupan berikutnya. Dengan kata lain, apbila ESQ power ini akan bermanfaat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Maka dalam hal ini ESQ Power digunakan oleh anak yang mampu mengajarkan pada orang tua.

Dalam proses pendidikan terhadap anak tidak hanya IQ tetapi juga EQ dan SQ, dalam makalah ini bahwasanya kekuatan emosional dapat menghantarkan orang tua khususnya dalam pendidikan anak. Kekuatan emosional ( ESQ Power) berpengaruh dalam proses pendidikan anak terutama dalam pembentukan karakter anak. Proses pendidikan anak tidak hanya melibatkan anak dan orangtuasemata melainkan keseimbangan antara lingkungan serta system yang diharapkan orangtua. Dalam ESQ Power bahwa kecerdasan emosi harus di barengi dengan adanya kecerdasan spiritual, pemgertian spiritual dalam Islam adalh menempatkan sgtandart hidup berdasarkan Islam itu nsendiri dalam hal ini aqidah Islamiyah.

Pengaruh ESQ Power dalam proses pendidikan anak sangat urgent, karena dalam proses pendidikan adanya pembelajaran menuju tingkah laku yanglebih baik. Dengan adanya ESQ Power maka anak setiap kali melakukan perbuatan disandarkan pada Islam dan pengaturan emosi yang lebih baik hingga menjadi dewasa, fa insya Allah.

Mendidik Anak Dengan ESQ POWER
Oleh : Fanny Octhaviany Chinthia Dewi | 14-Mar-2009, 20:12:04 WIB

KabarIndonesia - Sepuluh langkah untuk menyerap ESQ POWER merupakan sepuluh langkah yang mudah dan praktis untuk kita jalankan. Dalam artikel ini saya mengutip  buku karangan Muhammad Muhyidin yang telah dirancang khusus untuk para orang tua. Hal ini bertujuan agar para orang tua dapat memiliki ESQ POWER, sehingga nantinya dapat berguna tidak hanya pada orang tua saja melainkan berguna juga untuk sang anak.

Maka dari itu setidak-tidaknya para orang tua harus menampakkan tujuh kekuatan dari ESQ POWER antara lain:
~ Tidak menampakkan kejahatan perasaan. Karena menampakkan kejahatan perasaan sama artinya dengan meniadakan kekuatan ESQ POWER. Jika anda melakukan hal tersebut sama halnya anda menanamkan kedengkian, kemarahan, kekerasan, dan ketakutan pada diri anak anda.

~Menampakkan cinta dan keindahan.
~Menampakkan kesabaran.
~Menampakkan keuletan.
~Menampakkan kejujuran dan keadilan.
~Menampakkan kreatifitas dan gairah.
~Menampakkan disiplin dan konsistens

Prinsip ESQ Power

(Disarikan dari catatan Leila Fatmasari Rahman, Eindhoven, alumni ESQ training)


Pada dasarnya training ESQ mengenalkan kita pada apa yang disebut dengan ESQ Model. Suatu model pedoman hidup yang memanfaatkan kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual berdasarkan nilai-nilai dari rukun iman, rukun islam dan suara hati manusia yang terangkum dalam Asmaul Husna. ESQ model terdiri dari tiga tahap, yaitu penjernihan emosi (zero mind process) yang didasarkan pada Asmaul Husna, membangun mental (mental building) yang didasarkan pada rukun iman, serta ketangguhan pribadi dan sosial (personal and social strength) yang didasarkan pada rukun islam.
Bagian pertama training ESQ membahas soal tahap pertama ESQ model yaitu penjernihan emosi. Bagian kedua difokuskan kepada tahap membangun mental dan hari ketiga membahas detail soal ketangguhan pribadi dan sosial.
            Pada tahap penjernihan emosi, kita berusaha menjernihkan belenggu-belenggu pikiran yang sering kali mencegah kita untuk mendengar suara hati. Dalam hati kita masing-masing, sebenarnya telah dihembuskan sifat-sifat fitrah manusia yang menyerupai sifat-sifat Tuhan. Kenapa bila kita melihat orang kesulitan, kita ingin menolong, bila kita melihat film heroik, kita akan merasa terharu, bila kita melihat teman menuntut ilmu untuk maju, kita pun ingin melakukan hal yang sama?
            Karena dalam jiwa setiap manusia, tidak peduli apakah dia dari Asia, Amerika, Afrika, Australia atau Eropa, apakah dia Muslim, Kristiani, Hindu, Budha atau penganut kepercayaan lain, memiliki suara hati yang sama, yaitu suara hati pengasih dan penyayang, suara hati menjunjung tinggi integritas dan kesetiaan, suara hati ingin maju, dan berbagai suara hati lainnya. Suara hati ini menyerupai sifat-sifat Asmaul Husna, seperti Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Penolong, Maha Benar, Maha Menegakkan, Maha Mengetahui, dan lainnya yang berjumlah 99. Sifat-sifat inilah yang dihembuskan Allah kepada jiwa tiap insan manusia ketika dia berada dalam kandungan ibu. Tiap manusia memiliki suara hati ini, tapi volume suara ini berbeda-beda. Ada yang mendengarnya dengan jelas, ada yang mendengarnya dengan sayup-sayup, bahkan ada yang tidak mendengarnya sama sekali. Beberapa belenggu pikiran menyebabkan volume suara hati ini meredup. Belenggu-belenggu ini antara lain: prasangka, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding, dan literatur. Pada training ESQ, kita dilatih untuk mengenali sifat fitrah manusia yang berupa suara hati tersebut dan kita diajak mengenali sifat-sifat Allah yang terangkum dalam Asmaul Husna. Kita juga disadarkan akan belenggu-belenggu pikiran yang sering kali menutupi suara hati kita, padahal suara hati ini sering kali memberi informasi penting dalam pengambilan berbagai keputusan, sehingga setiap keputusan yang kita ambil adalah keputusan terbaik yang akan membawa berkah dan diridhoi oleh Allah SWT. Selain itu, jika kita bertindak berdasarkan suara hati, Insya Allah akan menimbulkan reaksi positif dari orang lain, mengingat suara hati tersebut bersifat fitrah dan universal.
Berwudhu dan berzikir adalah salah satu cara efektif untuk menghilangkan belenggu-belenggu pikiran ini.
            Bagian pertama juga membahas mengenai hubungan antara IQ, EQ dan SQ. Mengapa IQ dan EQ saja tidak cukup untuk menghadirkan kebahagiaan yang sejati. Ary Ginanjar membandingkan secara cerdas metode ESQ dengan metode IQ, EQ dan SQ yang diajukan oleh berbagai pemikir barat masa kini.
            Bagian kedua membahas soal membangun mental. Ada enam prinsip yang perlu kita pegang untuk membangun mental cerdas yang kuat dan tidak mudah goyah. Enam prinsip ini didasarkan pada enam rukun iman. Prinsip-prinsip ini antara lain: star principle, angel principle, leadership principle, learning principle, vision principle dan well organized principle. Prinsip-prinsip ini dikenalkan dengan cara yang variatif, menarik, dan juga mengharukan. Pemberian materi disajikan dalam bentuk permainan, presentasi interaktif, pertunjukan dan juga renungan.
            Star principle menyadarkan kita bahwa prinsip hidup yang paling penting bukanlah uang, anak, keluarga, jabatan, kesehatan, wanita, pendidikan atau yang lainnya. Hal-hal tersebut sifatnya tidak abadi, bisa hilang dalam sekejap mata, dan bahkan bisa membawa kita ke jurang kehancuran. Penyajian materi star principle meliputi survey dari peserta dan juga penjelasan dalam bentuk pertunjukan menarik yang dibawakan oleh para trainer. Renungan syahdu juga membuat peserta menangis tersedu-sedu menyadari betapa selama ini kita lebih mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi dan mengesampingkan Allah SWT. Astagfirullah al-‘Azhim.
            Prinsip kedua adalah angel principle. Prinsip ini mengajak kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik karena kita tahu segala perbuatan kita akan dicatat oleh malaikat Allah, dan kita mengharapkan balasan hanya dari Allah, bukan berupa penghargaan dari orang lain. Berbagai cerita dan pengalaman menarik dipresentasikan pada saat training. Banyak contoh perbuatan-perbuatan yang didasarkan oleh angel principle akan membawa berkah besar dari arah yang tidak diduga-duga.
            Prinsip ketiga, atau leadership principle membahas soal tangga kepemimpinan yang terdiri dari: pemimpin yang dicintai, pemimpin yang dipercaya, pembimbing, pemimpin yang berkepribadian dan pemimpin yang abadi. Ada banyak pemimpin besar di dunia ini muncul silih berganti, namun pengaruhnya hilang begitu mereka turun dari tampuk kekuasaan. Bahkan banyak pula yang berakhir dalam kehancuran. Pada training ESQ, peserta diberi permainan yang memberi gambaran akan sulitnya menjadi pemimpin dalam keadaan yang kacau. Lalu peserta akan dikenalkan kepada seorang pemimpin abadi, yang telah berhasil melewati lima tangga kepemimpinan tadi dengan sukses. Beliau tercantum pada urutan pertama seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah yang dikompilasi oleh Michael Hart pada tahun 1978. Pengaruhnya setelah beliau wafat terus bergema hingga 1400 tahun kemudian atau hingga masa kini. Beliau tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Perkataan dan tingkah lakunya menjadi panutan umat Islam di seluruh dunia dan bimbingannya membawa umat manusia ke arah yang lebih baik bahkan hingga masa kini. Shalawat dan salam kita tujukan kepada junjungan kita tercinta Nabi Muhammad SAW. Untuk menjadi pemimpin abadi, hendaklah kita mencontoh kepemimpinan para nabi dan rasul Allah yang memprinsipkan tindakannya pada suara hati yang fitrah yang berasal dari sifat Allah SWT.
            Prinsip keempat adalah learning principle. Pembahasan mengenai prinsip ini diawali dengan pengenalan terhadap metode Kaizen yang dianut orang Jepang. Kaizen artinya proses penyempurnaan secara terus-menerus yang tiada henti. Orang Jepang selalu berusaha mempelajari teknologi dari bangsa barat lalu disempurnakan menjadi teknologi baru yang lebih baik. Dalam hal ini Kaizen juga berarti mengambil yang baik, membuang yang buruk dan menciptakan yang baru. Dalam training, kita akan dijelaskan mengenai bagaimana surat Al-Fatihah mengandung metode yang lebih dahsyat dari metode Kaizen jika saja kita menghayatinya dengan sungguh-sungguh. Al-Qur’an mengandung berbagai ilmu dan kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Pesan-pesan yang terdapat di dalamnya hendaklah kita jadikan pedoman hidup dan kita gali maknanya dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menghimbau kita untuk terus menuntut ilmu, terus membaca, terus berpikir dan terus menyempurnakan segala sesuatunya. Banyak juga ayat-ayat Al-Quran yang telah terbukti kebenarannya lewat analisa ilmu pengetahuan masa kini. Dalam training ini kita juga ditunjukkan peninggalan-peninggalan ilmuwan muslim di masa kejayaan Islam. Subhanallah, betapa para ilmuwan muslim di Timur Tengah dan Eropa saat itu menguasai teknologi luar biasa canggih pada masanya. Semangat menggali ilmu yang sangat besar itu didorong oleh nilai-nilai yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadist.
            Prinsip kelima atau vision principle membahas bahwa kita sebagai muslim mempunyai visi hidup yang jelas. Visi kita paling utama, atau orientasi jangka panjang kita adalah hari kiamat. Pada hari ini kita ingin selamat dan diberi jalan ke pintu surga dengan mudah. Dengan visi yang jelas ini kita bisa menetapkan orientasi jangka menengah dan jangka pendek dalam mengarungi hidup di dunia ini, sehingga hidup kita selalu produktif dan tidak diisi dengan hal yang sia-sia. Para trainer ESQ akan menjelaskan seperti apakah orientasi jangka menengah dan jangka pendek ini.
            Pada penjelasan mengenai prinsip keenam atau well organized principle, peserta diajak bermain game tiup balon. Tiap peserta diberi balon. Pada aba-aba yang sama, peserta meniup balon, dan melepaskannya, kemudian mengambil lagi balon yang telah terbang dan jatuh, ditiup lagi dan dilepaskan lagi hingga salah satu dari peserta sampai ke garis finish. Game ini memberi gambaran usaha dan takdir dalam hidup kita. Garis finish melambangkan tujuan yang ingin kita capai. Segala tindakan kita sebaiknya dimulai dengan menetapkan tujuan. Peniupan balon menggambarkan usaha yang kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ke mana arah balon terbang menggambarkan takdir akan usaha kita tadi, karena balon bisa saja terbang langsung ke arah garis finish, atau bisa juga melalui arah yang berliku-liku.
            Bagian ketiga membahas mengenai ketangguhan pribadi dan sosial yang didasarkan pada lima rukun islam, yaitu bagaimana membentuk pribadi tangguh yang cerdas sosial melalui lima tindakan berikut: mission statement, character building, self controlling, strategic collaboration dan total action.
            Tindakan pertama yang perlu dilakukan untuk membentuk pribadi tangguh adalah menyatakan misi hidup atau mission statement. Apakah misi hidup kita sebenarnya? Misi hidup kita adalah dua kalimat syahadat. Menyatakan atau bersaksi secara eksplisit bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, lalu menghayatinya dengan sungguh-sungguh, dan mendasarkan segala tindakan kita pada misi ini. Cerita mengenai kisah nabi Ibrahim akan menyadarkan apa arti misi hidup kita yang sebenarnya. Rasa haru meliputi ruangan ketika kita ditakjubkan oleh keteguhan Nabi Ibrahim dalam menjalankan misi hidupnya. Subhanallah, pertanyaan yang patut diajukan adalah, sejauh mana kita menjunjung misi hidup kita yang sebenarnya? Atau mungkin kita masih punya misi hidup lain? Yang mengedepankan hal-hal duniawi dibanding mencari ridho Allah SWT? Astagfirullah al-‘Azhim, sebaiknya kita sering-sering mengevaluasi diri. Jika kita mulai merasa resah, sedih dan tidak bahagia, mungkin kita sedang lupa akan misi hidup kita yang sebenarnya.
            Sesi mengenai character building dimulai dengan penggambaran karakter orang Jepang yang disiplin dan pekerja keras. Mereka berpegang pada nilai-nilai yang selalu mereka ingat dan mereka ucapkan secara eksplisit tiap harinya. Terbukti bahwa kekuatan pengulangan adalah cara efektif untuk membentuk suatu karakter. Surat Al-Fatihah mengandung nilai-nilai yang menyerupai dan bahkan lebih baik dari nilai-nilai yang dianut orang Jepang tadi, karena nilai-nilai ini didasari oleh sifat-sifat Allah yang mulia. Surat Al-Fatihah ini dibaca berulang-ulang ketika kita sholat. Sehari kita membaca surah Al-Fatihah minimal sebanyak 17 kali. Jika kita menghayatinya dengan kushyu seharusnya kita mengingat dan menerapkan nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya, seperti sifat pengasih, penyayang, agung, besar, suci, empati, bersyukur, tinggi, damai, terpuji dan mulia, hingga sifat-sifat ini akan menjadi bagian dari karakter kita.
Untuk menyingkat artikel ini, saya akan melewati pembahasan mengenai tindakan self-controlling, strategic collaboration dan total action. Pembahasan ini bisa dibaca dalam buku ESQ yang saya cantumkan pada daftar pustaka atau mungkin sebagai kejutan pada saat mengikuti langsung training ESQ ini. Tentunya masih banyak kejutan lain yang akan ditemukan pada poin-poin yang telah saya bahas sebelumnya, karena artikel ini hanyalah berupa rangkuman dari rangkaian acara yang luar biasa padat dan sarat akan materi dan kegiatan. Sarana audio visual juga akan menambah pengalaman spiritualitas tersendiri.         Berdasar konspe ESQ Power, Ary Ginanjar telah secara brilian menggabungkan intelektualitas, nilai-nilai Al-Qur’an dan hadist, pengalaman hidup, berbagai pengetahuan dalam bidang psikologi, sejarah, ilmu alam, ilmu sosial, ilmu komunikasi, ilmu bisnis, marketing, teknologi dan lain sebagainya menjadi suatu model ESQ yang terpadu, logis dan menyentuh. Namun perlu diingat bahwa sebuah model adalah representasi dari suatu realitas. Suatu realitas adalah hal yang kompleks, dan sebuah model biasanya bersifat tidak lengkap atau tidak menggambarkan seluruh aspek dari realitas tersebut. Pasti ada hal-hal detail yang tidak tercakup dalam model tersebut. Untuk itu, selain menerapkan ilmu ESQ, ada baiknya kita mempelajari agama Islam dari berbagai aspek dan sumber sehingga kita memiliki pemahaman yang mantap dan terpadu. Dengan konesep ESQ ini, kita diingatkan untuk terus berusaha memperbaiki diri, terus menggali ilmu dan memanfaatkannya untuk menggapai ridho Allah SWT.


Daftar Pustaka
- Agustian, Ary Ginanjar, Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual ESQ: Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001
- Agustian, Ary Ginanjar, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ POWER: Sebuah Inner J

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar