Blog number one in desa

Niki Salah Sawijining BLOG kang Di nduweni cah ndeso,sing bocahe wonten sekolah teng" MA.BUSTANUL ULUM"

Jumat, 22 Oktober 2010

Novel Ketika Cinta Bertasbih

KETIKA CINTA BERTASBIH

 
MEGA FILM KETIKA CINTA BERTASBIH diangkat dari novel mega best seller Asia Tenggara, karya penulis bertangan dingin Habiburrahman El Shirazy. Film yang menceritakan kehidupan tokoh utamanya Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar University, Kairo. Cerita yang bisa menjadi inspirasi bagi kita, ketika melihat bagaimana kerja keras sang tokoh yang menuntut ilmu sekaligus berjuang menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung. Cerita yang juga bisa menuntun kita, ketika melihat usaha dan perjuangan Khairul Azzam dalam menemukan jodohnya dengan tetap selalu teguh berpedoman kepada ajaran agama
Setting filmnya sendiri benar-benar disesuaikan dengan gambaran yang ada di novel. Penonton benar-benar akan dimanjakan dengan pemandangan Kota Kairo, Sungai Nil, Pyramid, Sphinx, Kota Alexandria dengan pemandangan laut Mediterania yang indah, Benteng Qait Bay, dan banyak lagi landscape Mesir yang sangat menarik dalam film ini

Jenis Film :
Drama
Produser :
Mitzy Christina, Cindy Christina
Produksi :
Sinemart Pictures
Durasi :
120

Cast & Crew

Pemain :
Kholidi Asadil Alam
Oki Setiana Dewi
Alice Norin
Andi Arsyil Rahman
Meyda Safira
Deddy Mizwar
Ninik L. Karim
Didi Petet
Habiburrahman El Shirazy
Aspar Paturusi
Prof.dr. Din Syamsudin
Slamet Rahardjo
El Manik
Tika Putri
Sutradara :
Chaerul Umam
Penulis :
Imam Tantowi


February 26, 2008
 
Masih dari penulis novel Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El-Shirazy, kali ini ia menghadirkan novel dwilogi berjudul “Ketika Cinta Bertasbih Episode 1” dan “Ketika Cinta Bertasbih Episode 2”…
Berbeda dengan ayat-ayat cinta yang menghadirkan tokoh Fahri yang begitu sempurna, disini Kang Abik menampilkan tokoh yang berbeda, tokoh yang baru bisa menyelesaikan S1-nya selama 9 tahun dan harus menjual tempe dan bakso di Mesir demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai tulang punggung bagi ibu dan 3 orang adiknya setelah ayahnya meninggal…
Takdir memang tidak selamanya sesuai dengan keinginan manusia, Azzam harus mengubur impiannya untuk bisa menjadi lulusan tercepat dengan predikat jayyid jiddan atau cumlaude, setelah ayahnya meninggal hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan bekerja dan mengumpulkan uang demi ibu dan tiga orang adiknya, dan dengan kegiatan itulah dia bisa berkenalan dengan kalangan kedutaan besar Indonesia di Mesir, ia dikenal bukan karena kepintarannya, akan tetapi karena tempe, bakso dan keahlian memasak yang dimilikinya… Tak jarang hampir semua ibu2 di kedutaan kenal baik dengannya, setiap ada acara di kedutaan, dialah yang ditunjuk untuk menyaipkan makanannya, tentunya makanan khas Indonesia…
Sosok Azzam dalam novel ini lebih terlihat memiliki prinsip yang tinggi, ulet, inovatif dan berbicara apa adanya, tak heran jika teman2 yang tinggal satu flat dengannya menjadikannya sosok yang patut dicontoh dan disegani, dan tak jarang pula yang ingin mengikuti jejaknya untuk bekerja sambil kuliah, tapi Azzam tidak mengijikannya karena tujuan awal mereka datang ke Mesir bukanlah untuk bekerja melainkan adalah belajar untuk mengabdi di tanah air…
Masalah cinta pun tak luput dari novel ini, kalau yang di buku episode 1 lebih banyak mengekplorasi tentang cinta Fadhil, teman satu flat Azzam, dan Tiara yang baru terungkap setelah Tiara menerima lamaran orang lain… di buku episode 2 lebih mengeksporasi cinta Azzam sendiri… bagaimana dia harus kecewa karena wanita yang diidamkannya menikah dengan sahabatnya sendiri, bagaimana lamarannya ditolak hanya karena masalah kepercayaan bahwa anak pertama dari sebuah keluarga tidak boleh menikah dengan anak ketiga di keluarga lain, bagaimana pertunangannya batal karena tunangannya dipaksa menikah oleh orang tuanya dengan orang lain, hingga bagiamana ia pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada pilihan kiai atau gurunya. Walaupun akhirnya yang dinikahinya adalah seorang janda, tetapi orang tersebut adalah wanita yang selama ini diidamkannya…
Oh ya, sedikit kembali lagi ke episode 1, novel ini berkisah tentang sang tokoh “Azzam” yang kembali dari Khairo setelah menyelesaikan S1 nya selama 9 tahun.. loh kok 9 tahun? Lama amat? Ya memang dia sengaja tidak meluluskan diri (padahal sebenarnya dia pintar) biar bisa tetap jualan bakso dan tempe di sana, yang tentu aja digunakan untuk menghidupi dirinya di Khairo dan adik serta ibunya di Solo. Dia pun membiayai sekolah adik-adiknya. Wah benar-benar keren..
Watak sang tokoh azzam ini bisa dibilang hampir sama dengan tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Hanya saja, kalau fahri identik dengan ilmu, terjemahan, dan hapalan, kalau azzam identik dengan jiwa enterpreneur. Di kost-kostannya dia pun menjadi kepala keluarga. Dia pun banyak kenalan disana seperti dubes dan sebagainya (tentu saja pelanggan tempe dan baksonya, serta dia pernah menjadi koki dubes saat ada acara reuni). Oh ya disana dia punya teman perempuan yang bernama Eliana (putri dubes) dan dia artis loh, wah diam-diam Azzam suka nih. Tapi mana brani azzam, coz dia juma penjual tempe..
Satu hal yang slalu teringat oleh saya tatkala si Elliana ini menelpon Azzam dan ingin memberi ciuman kepada si Azzam karena telah membantunya menjadi koki di acara ayahnya. Tapi azzam tantu aja menolaknya dan langsung menutup telponnya. Dia berbuat begitu karena 2 hal, yang pertama karena dia males melanjutkan pembicaraan yang udah mulai ngawur dan yang kedua karna dia capek coz dia baru aja pulang dari kerjaannya. Kemudian si Elliana ini merasa tersinggung olehnya, namun keesokkannya Azzam menjelaskan sebaik-baiknya. Eliana pun menyadari akan kesalahannya selama ini..
Oh ya bagian yang paling keren lagi yaitu ketika azzam menolong gadis yang bernama Anna Antalafunisa dan temannya. Ada adegan “action”nya loh kayak di film box office.. jadi gini. Dia kala itu mau beli daging dan keperluan dapur ke –wah lupa tempatnya- naik bis. Di bis ada gadis manis dan cantik bertanya toko buku. Azzam pun memberi tahunya. Kemudian mereka pun berpisah, azzam melanjutkan perjalanan.
Setelah azzam selesai membeli semua yang ia perlukan, ia pun memutuskan untuk naik taxi coz udah kesorean.. dia kemudian melihat gadis yang dikenalnya di bis tadi bersama temannya. Wah ternyata kedua gadis itu sedang menangis. Azzam pun turun dari taxi-nya. Ternyata dompet salah satu dari mereka di copet. Hmm bahkan parahnya lagi buku dan kitab mereka tertinggal di bis karena saat itu mereka berusaha mengejar copet itu.. Azzam pun berfikir, “bagaimana kalau kita mengejarnya?” akhirnya mereka pun mengejar bis tersebut dengan taxi azzam tadi. Kejar-kejaran pun terjadi layaknya kejar-kejaran di film. Akhirnya bis itu pun ketemu. Azzam turun dan meminta bus itu berhenti sejenak karna sang gadis sedang berusaha mencari buku-bukunya. Dan akhirnya ketemu.. wih.. Azzam benar-benar pahlawan. Gadis itu pun bertanya siapakah namamu gerangan?. Namun azzam mengatakan dirinya bernama Abdullah.
Bagian yang menurut saya agak menyedihkan, yakni ketika azzam ingin melamar seorang muslimah yang bernama Anna. Dia belum kenal Anna. Sebelumnya azzam dinasihati supirnya Elliana agar azzam tidak usah mengharap Elliana, karena menurutnya kurang cocok. Azzam begitu kuat imannya, sedangkan Elliana? Oleh karena itu Supirnya Elliana yang saya lupa namanya agar azzam mempersunting Anna saja. Kemudian pak supir pun menceritakan siapakan anna itu. Wah azzam pun semangat, ia pun segera mendatangi seseorang (wah saya lupa, dia mendatangi siapa) untuk melamar anna. Namun apa yang terjadi. Lamarannya ditolak mentah-mentah. Ternyata anna telah dilamar temannya sendiri, Furqan. Azzam pun dibanding-bandingkan dengan Furqan itu.. sungguh memalukan, Azzam hanya S1, itu pun belum lulus selama 9 tahun, dia pun hanya penjual tempe.. sungguh sangat jauh ketimbang Furqan. Saat itu pun dia mulai konsentrasi dengan pekerjaannya itu. Ia tidak akan membuka pintu hatinya sebelum ada gadis yang mengetuknya.
Dan akhirnya adiknya ternyata telah lulus kuliah. Skali lagi, wah benar-benar menakjubkan si tokoh azzam ini, bisa mengkuliahkan adiknya hingga lulus, padahal dia sendiri belum lulus. Setelah tahu akan keadaan adiknya yang telah lulus, azzam pun memutuskan untuk segera pulang. Ia pun belajar dengan giat agar segera lulus. Bayangkan, sudah 9 tahun azzam tidak bertemu dengan keluarganya. Dan akhirnya dia pun berhasil. Ia pun segera bertemu dengan keluarganya.
Itulah sebagian kecil hal yang menarik dari novel Ketika Cinta Bertasbih Episode 1. Bagaimana yang episode 2. Oke, sabar, tapi saya Cuma ceritain sebagian kecil yang menurut saya keren, ok (masih banyak hal yang heren lainnya).
Review Ketika Cinta Bertasbih Episode 2
Azzam pun pulang ke Indonesia. Dan ternyata azzam bareng Elliana, artis terkenal itu. Ya memang keduanya kenal dekat, coz elliana pernah bekerja sama dengan azzam. Adiknya pun segera ke jakarta untuk menjeput sang kakak tercinta. Dan ternyata sang adik adalah penulis Best seller kumpulan cerpen. Wah sungguh hebat keduanya kakak beradik ituh. Husna –adiknya azzam- selain menjeput azzam ternyata ada agenda lain yakni pergi ke TIM untuk menerima penghargaan.
Saat itu azzam pun keluar dari bandara bersama Elliana. Dia pun mencari adiknya disana. Dan akhirnya adiknya ketemu. Husna datang bersama temannya. Ternyata diluar sudah banyak wartawan yang menghadang Elliana, ia pun diwawancarai. Azzam segera meninggalkannya dan menemui adiknya. Setelah puas, temannya husna minta dikenalkan kepada Elliana, karena ia merupakan fans-nya. Lalu ia pun di kenalkan. Akhirnya mereka foto-foto dengan hp temannya itu. Wartawan pun kembali mewawancarai Ellana tentang siapakah yang sedang dekat dengannya saat ini. Elliana pun mengatakan bahwa pria disampingnyalah yang terdekat. Kontan azzam bingung dan kaget. Semua moncong kamera pun mengaah padanya. Ia pun di tanya-tanyai. Azam panik.
“Sejak kapan anda kenal Elliana?” tanya seorang wartawan.
“aduh, ini apa-apaan!” seru Azzam panik.
“santai saja mas. Kita Kooperatif saja jadi enak. Sejak kapan anda kenal Elliana?”
“aduh gimana ini, Eliana, bicara dong. Wah kok jadi rumit begini sih!” kata Azzam kepada Elliana.
“dia tidak biasa menghadapi wartawan. Kami kenal sejak satu tahun yang lalu” sahut Elliana dengan tenang.
“Benar Kamu dekat dengan Elliana?” cerocos seorang wartawan koran ibukota.
“Kebetulan tadi kami satu pesawat dan duduknay berdekatan. Saya di 15F, dia di 15E. Jadi kami memang dekat.” Jawab azzam juga sekenanya.
“apa profesi mas saat ini?”
“Jualan bakso.”
“Ah, jangan bergurau Mas.”
“Sungguh, tanya saja pada Elliana!”
Wartawan itu langsung bertanya pada elliana, “benarkah dia jualan bakso?”
“Ya benar. Para diplomat adalah pelanggannya”. Jawab Elliana
“Wah seorang enterpreneur! Keren ya mbak?” wartawan itu berkomentar.
“Iya dong. Dia pria paling keren yang pernah aku temui” . Elliana pun berbisikkan dengan azzam.
Kemudian azzam pamit pada elliana. Ia menelungkupkan tangan di dada lalu pergi.
“tidak ada cipika-cipiki mas?” tanya seorang wartawan usil.
Azzam tidak menjawab, yang menjawab malah Elliana, “Dia itu mahasiswa Al Azhar Cairo, masak cium pipi kanan pipi kiri. Kan belum halal! Ngerti?”
“wah sekarang pacar Elliana alim ya. Bisa jadi berita menarik “. Komentar seorang wartawan.
Keesokan harinya berita pun menyebar ke seluruh media, entah cetak atau elektronik. Tentu saja di desanya geger, kok bisa azzam yang miskin itu dekat dengan artis seterkenal Elliana bahkan media menganggapnya kalau Azzam merupakan kekasihnya Elliana (padahal sebenarnya bagi azzam elliana hanya sekedar temannya).
Oh ya malamnya acara penghargaan kepada adiknya. Azzam pun menghadirinya. Kemudian Husna pun sampai gilirannya menerima penghargaan itu. Ia pun bercerita bahwa yang bisa menjadikannya seperti ini tak lain adalah kakaknya tercinta, Azzam. Ia pun menceritakan kehidupannya dan kakaknya bahwa kakaknya membanting tulang di mesir selama 9 tahun untuk membiayai kuliahnya dan tidak meluluskan diri. Dan, wah lagi-lagi bertemu elliana, yang ternyata merupakan seorang pembawa acara. Acara itu pun disiarkan ke seluruh Indonesia. Lagi-lagi azzam terkenal. Elliana pun kini lebih banyak tahu tentang azzam, dan kagum akan dirinya.

Tapi apakah Elliana adalah jodoh azzam, bagaimana dengan tokoh gadis yang ditolongnya di bis tadi yang ternyata bernama Anna (azzam belum tahu nama gadis itu).
Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini adalah :
  • Hidup memang mengharuskan kita untuk selalu berjuang, berkorban dan ber-inovasi, berjuang karena hidup itu tidaklah mudah, berkorban karena takdir tidaklah selamanya seperti yang kita harapkan, ber-inovasi karena kehidupan akan selalu menuntut perubahan…
  • Sebaik apapun pekerjaan kita, selancar apapun usaha kita, jangan lupa untuk selalu menyeimbangkan antara dunia dengan akhirat, kalau dalam novel ini Azzam hanya tinggal mengabdikan ilmunya, kita yang masih awam harus lebih banyak belajar dan belajar…
  • Cinta memang kadang sulit mengelolanya, akan tetapi cinta seharusnya bukan membawa kepada kehinaan melainkan kepada kemuliaan, yaitu kemuliaan menuju Ridho-Nya
  • Dari Cerita Azzam tentang anak singa yang di besarkan kambing, yang tumbuh dengan mental kambing tanpa menyadari bahwa sesungguhnya dia adalah seekor Raja Hutan, bisa kita ambil pelajaran bahwa itulah yang kebanyakan terjadi pada kita, setelah sekian lama kita hidup, kita seringkali tidak mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang kita miliki… dan tak jarang kita menjalani hidup apa adanya, biasa2 saja dan ala kadarnya…
Cerita dalam novel ini bukanlah cerita yang akan membuat kita menangis sedih, melainkan akan membawa kekuatan untuk terus menjaga keikhlasan dalam berjuang dan berkorban… dan tidak salah jika dikatakan sebagai novel dwilogi pembangun jiwa…
Two thumbs up… deh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar